Senin, 21 September 2015

Aku Tanpa Kalian


Aku yang sudah beberapa minggu menjadi siswi di SMPN 1 Susukan masih belum menemukan seseorang yang bisa membuatku semangat kembali seperti sebelum kepindahanku ke Banjarnegara. Entah walau hanya sekedar teman, sahabat atau yang lain. Memang aku belum bisa melupakan kisahku di kota kelahiranku, Jogjakarta. Kota yang sudah banyak mengertiku, menemaniku, membesarkanku, membahagiakanku, dan membuatku nyaman. Bagaimana aku tidak merasakan kenyamanan dengan kota itu? Begitu banyak cerita selama 13 tahun aku tinggal di sana. Kepindahanku memang mendadak, itu yang membuatku begitu sulit melupakan semua cita dan cintaku yang aku tinggalkan di setiap sudut kehangatan Jogjakarta. Bukan maksudku menyalahkan takdir, namun aku hanya merasakan sedih yang amat karena harus begitu saja meninggalkan semua yang sudah aku cita-citakan dari kecil. Aku sering dengar, orang Jogja itu ramah, sopan, halus dalam bertutur kata, sekarang pun aku baru mengerti bahwa semua itu benar. Mungkin sudah menjadi kebudayaan, di masing-masing daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Namun aku masih sulit untuk menerima kebudayaan di daerahku sekarang.
“Kamu kenapa pindah?” Begitu banyak pertanyaan seperti itu yang sering aku dapatkan dari orang-orang di sekitarku. Seketika menusuk tepat di jantungku, sakit, sakit yang teramat aku rasakan jika mendengar pertanyaan seperti itu. Aku hanya tertunduk diam mendengar semua yang dipertanyakan oleh lingkunganku. Menangis dalam diam dan kesendirian seolah telah menjadi kebiasaanku. Ditambah, saat-saat pertama aku menjadi siswi baru di SMPN 1 Susukan, lingkungan kelasku seperti tidak menerima kehadiranku. Aku hanya bisa mengatakan, mungkin ini ujian dari Allah supaya semakin bertambah imanku.
***
“Ayu, kamu janji ya besok waktu ulang tahunku kita bakal rayain bareng. Aku juga mau kelas VIII nanti kamu bisa ada di sampingku waktu aku mulai belajar pakai kerudung. Kamu harus semangatin aku biar aku bisa istiqomah sama perintah Allah. Pokoknya kamu harus ada di sampingku!” pinta Citra padaku.
Sejak pertama menduduki bangku SMP, aku dan Citra sudah begitu dekat. Memang kita tidak pernah mengenal sebelumnya. Cerita demi cerita yang sering kita utarakan dari pertama berjumpa sudah membuat kita sedekat ini.
Akhir liburan semester I, aku mendapat suatu kabar yang seketika menyurutkan tawaku. Betapa tidak? Janji-janjiku terhadap Citra begitu saja akan sirna oleh kepergianku. Semua terasa gelap! Harus bagaimana aku? Baru saja aku menyalakan lilin, badai angin dengan sigap mematikan lilinku.
Kebetulan saat tanggal 29 Desember 2011 kelas VII ada kegiatan di sekolah, jadi  kami semua memang berangkat seperti biasa. Ku beranikan menatap Citra dan mengatakan kepadanya, “Cit, aku harus pindah!”
“Maksud kamu apa, Yu?” Jawab Citra kaget.
“Iya, aku harus pindah, Cit! Mulai semester II aku udah nggak bisa sama kamu. Aku harus ninggalin Jogja. Aku jahat sama kamu! Aku udah bohong sama kamu! Kamu minta aku bakalan ada waktu ulang tahunmu, kamu juga minta aku bakalan ada waktu kamu mulai belajar pakai kerudung! Itu semua bohong! Aku…” Tidak sanggup lagi aku meneruskan ucapanku, Citra langsung memelukku dengan erat.
“Kamu pindah kenapa? Kok mendadak gini? Kamu nggak boleh pindah! Kamu kan udah janji sama aku bakalan ada di sampinku? Kalau aku mau cerita sama siapa? Kalau aku mau minta temenin ke kantin, temenin ke WC, temenin cari barang, temenin makan, temenin modusin anak kelas sebelah, aku harus ngajakkin siapa? Aku harus bersandar, nangis, meluk siapa kalau bukan kamu? Kamu jahat! Aku sayang sama kamu, Yu!” Ungkap Citra dengan bercucuran air mata.
Begitu berat untuk menjawab semua itu. Memang aku jahat, tapi ini juga bukan mauku. Aku tidak pernah ingin ini semua tejadi. Bahkan semua orang pun tidak ingin merasakan  hal yang serupa.
***
Di sekolah baruku ini aku merasakan kesendirian di tengah keramaian. Aku lebih banyak menutup diri. Diam seribu bahasa. Terkadang tak sadar aku melamun dengan mata yang berkaca-kaca. Tawaku belum kembali walaupun sudah beberapa minggu aku mencoba bangkit. Begitu terasa sesak, udara kebahagiaan seolah menjauh dariku. Aku harus bisa bangkit!
Kenaikan kelas VIII bertepatan dengan hari kelahiranku, aku menerima dua paket yang biasa disebut kado ulang tahun dari dua sahabatku di Jogjakarta, Erlin dan Citra. Hari-hariku di kelas VIII berbeda dengan saat kelas VII karena aku sekelas dengan Asyifa yang juga pindahan dari Jogja, namun dia sudah sejak awal masuk SMP, berbeda denganku yang sejak kelas VII semester II. Kita senasib. Itu yang sering aku katakan kepada dia. Aku banyak berbagi cerita dengan Asyifa, dia pun juga sama. Sampai kadang air mata tak sanggup kami tahan saat sedang menceritakan kesenenagan kita di Jogja.
***
“Ada yang mau kenalan sama kamu.” Ucap Syalsa kepadaku.
Sudah sejak kelas VII aku dan Syalsa saling kenal, beberapa kali aku mau terbuka dengannya, tapi masih hanya ku anggap sebatas teman. Dia dewasa,  itu yang membuat aku ingin berbagi dengannya. Tetapi kita tidak sekelas saat kelas VIII. Mendengar ucapannya aku bingung, “Siapa?” jawabku seadanya. Dia memberiku nomer hp seseorang dan aku diminta mengirim pesan singkat ke nomer itu. Malamnya aku coba mengirim pesan singkat ke nomer itu, ternyata namanya Aditya anak kelas VIII A. Keesokan harinya saat aku sedang piket di depan kelas ada seorang laki-laki menghampiriku, “Kamu yang semalem sms aku?”. Aku menyimpulkan bahwa dia pasti Aditya, ternyata memang benar. Perasaanku hanya biasa saja saat dia menghampiriku, begitu juga dengan responku saat sedang berkirim pesan singkat dengannya, biasa saja. Beberapa waktu setelah kita kenal, Aditya mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku yang diam-diam sudah menaruh hati kepada kakak kelas hanya mengatakan hal seadanya kepadnya. Diriku pun belum merasakan adanya hal yang lebih dari perasaanku kepadanya.
***
Menjalani hubungan jarak jauh dengan Citra dan Erlin -sahabatku sejak SD- memang tidak semudah mengedipkan mata. Sering ingin berjumpa, tapi terhalang jarak. Sering ingin berbagi, tapi terhalang jarak. Jarak memang tidak salah. Tidak ada yang salah di antara kita. Ini semua hanya perjalanan hidup yang harus ditempuh.
Beberapa bulan setelah kelas VIII ada yang mengadu domba Citra denganku. Teman sekelasku saat dulu di SMPN 12 Jogjakarta. Aku memang sudah jarang kontak dengannya, karena memang kesibukan kita masing-masing. Tapi sesekali tetap  sering aku mengabarinya, dia juga.
Karena suatu masalah Citra seakan menjauhiku. Satu bintangku tertutup awan. Aku sudah coba menyingkirkan awan tersebut, namun usahaku belum berhasil. Sampai saat itu ada yang menasihatiku, “Berdoa aja! Kan yang membolak-balikkan hati manusia itu Allah. Minta sama Allah supaya Citra bisa seperti dulu lagi!” nasihat sederhana yang  memang menyentuh hatiku. Aku minta kepada Allah untuk mengembalikan cahaya satu bintangku yang sedang tertutup awan. Tidak menunggu waktu lama, Allah mengembalikan cahaya bintangku yang berada jauh dariku.
***
Suatu waktu Syalsa menceritakan kepadaku bahwa ia menyukai Aditya. Sebagai seorang teman aku pun ikut senang, dan aku hanya merasa biasa tidak ada hal yang membuatku sakit hati.
Beberapa waktu setelah kami duduk di bangku kelas VIII diadakan pemilihan Ketua OSIS Periode 2012-2013. Terpilihlah Ketua OSIS dari kelas VIII D, kelasku. Di situ ternyata aku diamanahkan untuk menjadi salah satu pengurus OSIS. Banyak pengalaman yang aku peroleh dari organisasi tersebut. Dari mulai LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang sudah diajarkan banyak hal tentang bagaimana kita dapat menjadi seorang pemimpin atau cara kita agar dapat mengelola suatu organisasi itu dengan baik, sampai pengalaman-pengalaman lain yang berhubungan dengan sosial maupun kesiswaan.
Sore itu matahari sudah hampir meninggalkanku. Aku dan teman-teman OSIS lainnya sudah kembali ke sekolah, karena kami sedang menyelesaikan  persiapan kegiatan Pelepasan Siswa-Siswi Kelas IX yang akan dilaksanakan besok pagi. Berbagi tugas, beberapa dari kami ada yang menata kursi tamu, menyiapkan soundsystem, menghias panggung, dan lain-lain. Terdengar meneduhkan paduan suara yang sedang berlatih sejak siang tadi. Pandanganku terfokus pada salah seorang anggota paduan suara di atas panggung tersebut. Berjaket kulit coklat dengan gayanya yang memang keren. Iya, dia Kak Ishal. Kakak kelas yang sedang dekat denganku. Tak lama kemudian terdengan adzan memanggilku dan teman-teman lainnya, segera kami menghentikan semua persiapan lalu menuju masjid sekolah.
Semakin gelap kami segera menyelesaikan semua persiapan yang harus dikerjakan. Tiba-tiba Nida menemuiku dan menanyakan suatu hal, “Kamu punya nomernya Aditya?”. Jawabku, “Punya, Nid. Tapi nggak tahu masih aktif apa enggak. Memangnya kenapa?”. Kemudian Nida memintaku untuk menghubungi Aditya agar dia menjemput Nida. Aditya dan Nida, mereka saudara. Nida teman sekelasku yang juga pengurus OSIS dan Aditya temaku yang aku kenal dari Syalsa. Belum jadi aku menghubungi Aditya, ternyata Nida sudah melihat saudaranya itu menjemput. Aditya mendekatiku dan Nida yang sedang berdiri di depan kelas VII B.
“Kamu belum pulang?” Tanya Aditya padaku.
“Belum. Malah nggak tahu ini mau pulang gimana, bapak nggak bisa jemput.” Cerocosku.
“Yaudah, ayok, aku anterin aja!” Ajak Aditya.
“Tapi…?” Belum selesai aku berbicara, Aditya sudah menarik tanganku dan menyuruhku memboncengnya.
Nida yang seharusnya diantarkan pulang, akhirnya ditinggal di sekolah dan Aditya mengantarkanku dahulu. Malam itu pertama kali aku bisa sedekat ini dengannya. Biasanya kami hanya berbincang melalui pesan singkat saja. Semenjak itu kami menjadi semakin dekat. Apalagi saat acara Pelepasan Siswa-Siswi Kelas IX, Aditya menjadi salah satu pengisi acara. Dia menunjukkan kehebatannya dengan teman-teman bandnya. Memang, aku mengakui suaranya bagus.
Sekitar sebulan setelah acara perpisahan, kami sudah menjadi kelas IX. Aku berbeda kelas dengan Aditya. Sedangkan Syalsa menempati kelas yang sama dengan Aditya. Syalsa yang sejak awal sangat berpengaruh soal kedekatanku dengan Aditya. Begitu inginnya Syalsa menyatukan aku dan Aditya. Aku pun sempat bingung, rasanya baru kemarin Syalsa bilang bahwa dia menyukai Aditya tetapi tidak lama setelah itu dia begitu ingin menyatukan aku dan Aditya.
Siang itu, Syalsa mengajakku untuk pergi ke rumahnya setelah pulang sekolah bersama Aditya. Rumah mereka memang b erdekatan. Diam-diam Syalsa dan Aditya sudah merencanakan sesuatu untukku. Kami menuju ke suatu tempat di dekat rumah Syalsa. Aku dan Aditya ditinggalkan berdua dengan sengaja. Di situ, semua yang sudah dipendam selama ini oleh Aditya akhirnya diucapkan dan diceritakan kepadaku. Dan akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Bukan hanya kali ini, dia sudah berkali-kali memintaku untuk menjadi kekasihnya tetapi masih belum bisa aku menerimanya.
“Maaf, aku belum bisa melupakan perasaanku ke Kak Ishal. Aku nggak mau kamu cuma jadi pelampiasan dari perasaanku ini.” Jawabku dengan sedikit gugup.
Wajahnya pun sedikit berubah menjadi murung. Tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau memang hatiku masih untuk Kak Ishal. Yaaa, walau sampai sekarang antara aku dan Kak Ishal masih belum ada kejelasan. Semenjak itu aku, Aditya dan Syalsa sering berkumpul bersama.
Sampai akhirnya beberapa minggu setelah Aditya menyatakan perasaannya aku sedikit demi sedikit membuang perasaanku kepada Kak Ishal dan membuka hatiku untuk Aditya. Termasuk desakan dari Syalsa yang membuatku untuk mencoba menerima Aditya.
“Nur sama Dika aja udah jadian, kita kapan?” dengan nada bercanda sering aku mengucapkan seperti itu kepada Aditya seiring berjalannya waktu.
Aditya pun memberanikan diri untuk menyatakan cintanya kembali kepadaku. Di situ aku menerimanya. Awalnya memang aku menerimanya hanya sekedar agar bisa melupakan Kak Ishal, tapi setelah berjalan beberapa bulan ternyata Aditya berhasil membuatku nyaman. Hari-hari setelah aku menerimanya sering kita habiskan waktu bersama. Pulang sekolah belajar bersama, kadang aku yang pergi ke rumahnya atau dia yang pergi ke rumahku. Hari libur kami biasa habiskan dengan mempelajari materi UN yang memang kami belum paham. Aku mengajarinya, dia mengajariku. Sering kita melakukan itu. Seolah sudah menjadi jadwal yang rutin bagi kami. Bulan-bulan pertama kami menjalin hubungan terasa hari-hariku berwarna.
Aku  mulai sibuk dengan hubunganku dengan Aditya sampai terkadang melupakan Syalsa. Hanya aku dan Aditya, aku dan Syalsa, atau hanya Syalsa dan Aditya. Sudah jarang kita kumpul bertiga. Antara perasaan senang dan sedih. Hati Syalsa pasti sakit, sudah pasti. Dia sudah merelakan orang yang dia sayangi hanya demi aku. Dia sering kepergok dengan wajah cemburu saat bertemu aku dan Aditya.
Sampai saat akan menjelang Ujian Nasional, aku dan Syalsa saling meminta maaf. Kita berderai air mata. Haru di peluknya. Begitu menyesal karena telah terbangun tembok antara kita bertiga. Setelah lulus SMP Aditya pun akan melanjutkan SMA di Tasikmalaya. Itu yang membuat kami lebih merasa menyesal. Waktu untuk kumpul bertiga akan jarang ditemukan.
Lagi-lagi harus merasakan LDR. Tepat tanggal 14 Juni saat pengumuman kelulusan, Aditya berangkat ke Tasikmalaya. Semenjak kepergiannya ke Tasik, Syalsa dan aku mencoba meruntuhkan tembok yang tak sengaja telah terbangun antara kami. Syalsa selalu ada saat aku membutuhkan seseorang untuk berbagi kisah. Dia tak pernah bosan mendengar curahanku, keluhanku, maupun ocehanku. Aku pun sudah menemukan tawaku kembali. Syalsa dan Aditya, dua orang yang sangat berpengaruh dalam proses hatiku menerima lingkungan.