Aku yang sudah beberapa minggu menjadi
siswi di SMPN 1 Susukan masih belum menemukan seseorang yang bisa membuatku
semangat kembali seperti sebelum kepindahanku ke Banjarnegara. Entah walau
hanya sekedar teman, sahabat atau yang lain. Memang aku belum bisa melupakan
kisahku di kota kelahiranku, Jogjakarta. Kota yang sudah banyak mengertiku,
menemaniku, membesarkanku, membahagiakanku, dan membuatku nyaman. Bagaimana aku
tidak merasakan kenyamanan dengan kota itu? Begitu banyak cerita selama 13
tahun aku tinggal di sana. Kepindahanku memang mendadak, itu yang membuatku
begitu sulit melupakan semua cita dan cintaku yang aku tinggalkan di setiap
sudut kehangatan Jogjakarta. Bukan maksudku menyalahkan takdir, namun aku hanya
merasakan sedih yang amat karena harus begitu saja meninggalkan semua yang
sudah aku cita-citakan dari kecil. Aku sering dengar, orang Jogja itu ramah,
sopan, halus dalam bertutur kata, sekarang pun aku baru mengerti bahwa semua
itu benar. Mungkin sudah menjadi kebudayaan, di masing-masing daerah mempunyai
ciri khas masing-masing. Namun aku masih sulit untuk menerima kebudayaan di
daerahku sekarang.
“Kamu kenapa pindah?” Begitu banyak
pertanyaan seperti itu yang sering aku dapatkan dari orang-orang di sekitarku.
Seketika menusuk tepat di jantungku, sakit, sakit yang teramat aku rasakan jika
mendengar pertanyaan seperti itu. Aku hanya tertunduk diam mendengar semua yang
dipertanyakan oleh lingkunganku. Menangis dalam diam dan kesendirian seolah
telah menjadi kebiasaanku. Ditambah, saat-saat pertama aku menjadi siswi baru
di SMPN 1 Susukan, lingkungan kelasku seperti tidak menerima kehadiranku. Aku
hanya bisa mengatakan, mungkin ini ujian dari Allah supaya semakin bertambah
imanku.
***
“Ayu, kamu janji ya besok waktu ulang
tahunku kita bakal rayain bareng. Aku juga mau kelas VIII nanti kamu bisa ada
di sampingku waktu aku mulai belajar pakai kerudung. Kamu harus semangatin aku
biar aku bisa istiqomah sama perintah Allah. Pokoknya kamu harus ada di
sampingku!” pinta Citra padaku.
Sejak pertama menduduki bangku SMP, aku
dan Citra sudah begitu dekat. Memang kita tidak pernah mengenal sebelumnya.
Cerita demi cerita yang sering kita utarakan dari pertama berjumpa sudah
membuat kita sedekat ini.
Akhir liburan semester I, aku mendapat
suatu kabar yang seketika menyurutkan tawaku. Betapa tidak? Janji-janjiku
terhadap Citra begitu saja akan sirna oleh kepergianku. Semua terasa gelap!
Harus bagaimana aku? Baru saja aku menyalakan lilin, badai angin dengan sigap
mematikan lilinku.
Kebetulan saat tanggal 29 Desember 2011
kelas VII ada kegiatan di sekolah, jadi
kami semua memang berangkat seperti biasa. Ku beranikan menatap Citra
dan mengatakan kepadanya, “Cit, aku harus pindah!”
“Maksud kamu apa, Yu?” Jawab Citra kaget.
“Iya, aku harus pindah, Cit! Mulai
semester II aku udah nggak bisa sama kamu. Aku harus ninggalin Jogja. Aku jahat
sama kamu! Aku udah bohong sama kamu! Kamu minta aku bakalan ada waktu ulang
tahunmu, kamu juga minta aku bakalan ada waktu kamu mulai belajar pakai
kerudung! Itu semua bohong! Aku…” Tidak sanggup lagi aku meneruskan ucapanku,
Citra langsung memelukku dengan erat.
“Kamu pindah kenapa? Kok mendadak gini?
Kamu nggak boleh pindah! Kamu kan udah janji sama aku bakalan ada di sampinku?
Kalau aku mau cerita sama siapa? Kalau aku mau minta temenin ke kantin, temenin
ke WC, temenin cari barang, temenin makan, temenin modusin anak kelas sebelah,
aku harus ngajakkin siapa? Aku harus bersandar, nangis, meluk siapa kalau bukan
kamu? Kamu jahat! Aku sayang sama kamu, Yu!” Ungkap Citra dengan bercucuran air
mata.
Begitu berat untuk menjawab semua itu.
Memang aku jahat, tapi ini juga bukan mauku. Aku tidak pernah ingin ini semua
tejadi. Bahkan semua orang pun tidak ingin merasakan hal yang serupa.
***
Di sekolah baruku ini aku merasakan
kesendirian di tengah keramaian. Aku lebih banyak menutup diri. Diam seribu
bahasa. Terkadang tak sadar aku melamun dengan mata yang berkaca-kaca. Tawaku
belum kembali walaupun sudah beberapa minggu aku mencoba bangkit. Begitu terasa
sesak, udara kebahagiaan seolah menjauh dariku. Aku harus bisa bangkit!
Kenaikan kelas VIII bertepatan dengan hari
kelahiranku, aku menerima dua paket yang biasa disebut kado ulang tahun dari
dua sahabatku di Jogjakarta, Erlin dan Citra. Hari-hariku di kelas VIII berbeda
dengan saat kelas VII karena aku sekelas dengan Asyifa yang juga pindahan dari
Jogja, namun dia sudah sejak awal masuk SMP, berbeda denganku yang sejak kelas
VII semester II. Kita senasib. Itu yang sering aku katakan kepada dia. Aku
banyak berbagi cerita dengan Asyifa, dia pun juga sama. Sampai kadang air mata
tak sanggup kami tahan saat sedang menceritakan kesenenagan kita di Jogja.
***
“Ada yang mau kenalan sama kamu.” Ucap
Syalsa kepadaku.
Sudah sejak kelas VII aku dan Syalsa
saling kenal, beberapa kali aku mau terbuka dengannya, tapi masih hanya ku
anggap sebatas teman. Dia dewasa, itu
yang membuat aku ingin berbagi dengannya. Tetapi kita tidak sekelas saat kelas
VIII. Mendengar ucapannya aku bingung, “Siapa?” jawabku seadanya. Dia memberiku
nomer hp seseorang dan aku diminta mengirim pesan singkat ke nomer itu.
Malamnya aku coba mengirim pesan singkat ke nomer itu, ternyata namanya Aditya
anak kelas VIII A. Keesokan harinya saat aku sedang piket di depan kelas ada
seorang laki-laki menghampiriku, “Kamu yang semalem sms aku?”. Aku menyimpulkan
bahwa dia pasti Aditya, ternyata memang benar. Perasaanku hanya biasa saja saat
dia menghampiriku, begitu juga dengan responku saat sedang berkirim pesan
singkat dengannya, biasa saja. Beberapa waktu setelah kita kenal, Aditya
mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku yang diam-diam sudah menaruh hati kepada
kakak kelas hanya mengatakan hal seadanya kepadnya. Diriku pun belum merasakan
adanya hal yang lebih dari perasaanku kepadanya.
***
Menjalani hubungan jarak jauh dengan Citra
dan Erlin -sahabatku sejak SD- memang tidak semudah mengedipkan mata. Sering
ingin berjumpa, tapi terhalang jarak. Sering ingin berbagi, tapi terhalang
jarak. Jarak memang tidak salah. Tidak ada yang salah di antara kita. Ini semua
hanya perjalanan hidup yang harus ditempuh.
Beberapa bulan setelah kelas VIII ada yang
mengadu domba Citra denganku. Teman sekelasku saat dulu di SMPN 12 Jogjakarta. Aku
memang sudah jarang kontak dengannya, karena memang kesibukan kita masing-masing.
Tapi sesekali tetap sering aku
mengabarinya, dia juga.
Karena suatu masalah
Citra seakan menjauhiku. Satu bintangku tertutup awan. Aku sudah coba
menyingkirkan awan tersebut, namun usahaku belum berhasil. Sampai saat itu ada
yang menasihatiku, “Berdoa aja! Kan yang membolak-balikkan hati manusia itu
Allah. Minta sama Allah supaya Citra bisa seperti dulu lagi!” nasihat sederhana
yang memang menyentuh hatiku. Aku minta
kepada Allah untuk mengembalikan cahaya satu bintangku yang sedang tertutup
awan. Tidak menunggu waktu lama, Allah mengembalikan cahaya bintangku yang
berada jauh dariku.
***
Suatu waktu Syalsa menceritakan kepadaku
bahwa ia menyukai Aditya. Sebagai seorang teman aku pun ikut senang, dan aku
hanya merasa biasa tidak ada hal yang membuatku sakit hati.
Beberapa waktu setelah kami duduk di
bangku kelas VIII diadakan pemilihan Ketua OSIS Periode 2012-2013. Terpilihlah
Ketua OSIS dari kelas VIII D, kelasku. Di situ ternyata aku diamanahkan untuk
menjadi salah satu pengurus OSIS. Banyak pengalaman yang aku peroleh dari
organisasi tersebut. Dari mulai LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang sudah
diajarkan banyak hal tentang bagaimana kita dapat menjadi seorang pemimpin atau
cara kita agar dapat mengelola suatu organisasi itu dengan baik, sampai
pengalaman-pengalaman lain yang berhubungan dengan sosial maupun kesiswaan.
Sore itu matahari sudah
hampir meninggalkanku. Aku dan teman-teman OSIS lainnya sudah kembali ke sekolah,
karena kami sedang menyelesaikan persiapan
kegiatan Pelepasan Siswa-Siswi Kelas IX yang akan dilaksanakan besok pagi. Berbagi
tugas, beberapa dari kami ada yang menata kursi tamu, menyiapkan soundsystem, menghias panggung, dan
lain-lain. Terdengar meneduhkan paduan suara yang sedang berlatih sejak siang
tadi. Pandanganku terfokus pada salah seorang anggota paduan suara di atas
panggung tersebut. Berjaket kulit coklat dengan gayanya yang memang keren. Iya,
dia Kak Ishal. Kakak kelas yang sedang dekat denganku. Tak lama kemudian
terdengan adzan memanggilku dan teman-teman lainnya, segera kami menghentikan
semua persiapan lalu menuju masjid sekolah.
Semakin gelap kami segera
menyelesaikan semua persiapan yang harus dikerjakan. Tiba-tiba Nida menemuiku
dan menanyakan suatu hal, “Kamu punya nomernya Aditya?”. Jawabku, “Punya, Nid.
Tapi nggak tahu masih aktif apa enggak. Memangnya kenapa?”. Kemudian Nida
memintaku untuk menghubungi Aditya agar dia menjemput Nida. Aditya dan Nida,
mereka saudara. Nida teman sekelasku yang juga pengurus OSIS dan Aditya temaku
yang aku kenal dari Syalsa. Belum jadi aku menghubungi Aditya, ternyata Nida
sudah melihat saudaranya itu menjemput. Aditya mendekatiku dan Nida yang sedang
berdiri di depan kelas VII B.
“Kamu belum pulang?”
Tanya Aditya padaku.
“Belum. Malah nggak tahu
ini mau pulang gimana, bapak nggak bisa jemput.” Cerocosku.
“Yaudah, ayok, aku
anterin aja!” Ajak Aditya.
“Tapi…?” Belum selesai
aku berbicara, Aditya sudah menarik tanganku dan menyuruhku memboncengnya.
Nida yang seharusnya
diantarkan pulang, akhirnya ditinggal di sekolah dan Aditya mengantarkanku
dahulu. Malam itu pertama kali aku bisa sedekat ini dengannya. Biasanya kami
hanya berbincang melalui pesan singkat saja. Semenjak itu kami menjadi semakin
dekat. Apalagi saat acara Pelepasan Siswa-Siswi Kelas IX, Aditya menjadi salah
satu pengisi acara. Dia menunjukkan kehebatannya dengan teman-teman bandnya. Memang, aku mengakui suaranya
bagus.
Sekitar sebulan setelah
acara perpisahan, kami sudah menjadi kelas IX. Aku berbeda kelas dengan Aditya.
Sedangkan Syalsa menempati kelas yang sama dengan Aditya. Syalsa yang sejak
awal sangat berpengaruh soal kedekatanku dengan Aditya. Begitu inginnya Syalsa
menyatukan aku dan Aditya. Aku pun sempat bingung, rasanya baru kemarin Syalsa
bilang bahwa dia menyukai Aditya tetapi tidak lama setelah itu dia begitu ingin
menyatukan aku dan Aditya.
Siang itu, Syalsa mengajakku
untuk pergi ke rumahnya setelah pulang sekolah bersama Aditya. Rumah mereka
memang b erdekatan. Diam-diam Syalsa dan Aditya sudah merencanakan sesuatu
untukku. Kami menuju ke suatu tempat di dekat rumah Syalsa. Aku dan Aditya
ditinggalkan berdua dengan sengaja. Di situ, semua yang sudah dipendam selama
ini oleh Aditya akhirnya diucapkan dan diceritakan kepadaku. Dan akhirnya dia
memintaku untuk menjadi kekasihnya. Bukan hanya kali ini, dia sudah
berkali-kali memintaku untuk menjadi kekasihnya tetapi masih belum bisa aku
menerimanya.
“Maaf, aku belum bisa
melupakan perasaanku ke Kak Ishal. Aku nggak mau kamu cuma jadi pelampiasan
dari perasaanku ini.” Jawabku dengan sedikit gugup.
Wajahnya pun sedikit
berubah menjadi murung. Tapi aku sendiri tidak bisa membohongi diriku sendiri
kalau memang hatiku masih untuk Kak Ishal. Yaaa, walau sampai sekarang antara
aku dan Kak Ishal masih belum ada kejelasan. Semenjak itu aku, Aditya dan
Syalsa sering berkumpul bersama.
Sampai akhirnya beberapa
minggu setelah Aditya menyatakan perasaannya aku sedikit demi sedikit membuang
perasaanku kepada Kak Ishal dan membuka hatiku untuk Aditya. Termasuk desakan
dari Syalsa yang membuatku untuk mencoba menerima Aditya.
“Nur sama Dika aja udah
jadian, kita kapan?” dengan nada bercanda sering aku mengucapkan seperti itu
kepada Aditya seiring berjalannya waktu.
Aditya pun memberanikan
diri untuk menyatakan cintanya kembali kepadaku. Di situ aku menerimanya.
Awalnya memang aku menerimanya hanya sekedar agar bisa melupakan Kak Ishal,
tapi setelah berjalan beberapa bulan ternyata Aditya berhasil membuatku nyaman.
Hari-hari setelah aku menerimanya sering kita habiskan waktu bersama. Pulang
sekolah belajar bersama, kadang aku yang pergi ke rumahnya atau dia yang pergi
ke rumahku. Hari libur kami biasa habiskan dengan mempelajari materi UN yang
memang kami belum paham. Aku mengajarinya, dia mengajariku. Sering kita
melakukan itu. Seolah sudah menjadi jadwal yang rutin bagi kami. Bulan-bulan
pertama kami menjalin hubungan terasa hari-hariku berwarna.
Aku mulai sibuk dengan hubunganku dengan Aditya
sampai terkadang melupakan Syalsa. Hanya aku dan Aditya, aku dan Syalsa, atau
hanya Syalsa dan Aditya. Sudah jarang kita kumpul bertiga. Antara perasaan
senang dan sedih. Hati Syalsa pasti sakit, sudah pasti. Dia sudah merelakan
orang yang dia sayangi hanya demi aku. Dia sering kepergok dengan wajah cemburu
saat bertemu aku dan Aditya.
Sampai saat akan menjelang
Ujian Nasional, aku dan Syalsa saling meminta maaf. Kita berderai air mata.
Haru di peluknya. Begitu menyesal karena telah terbangun tembok antara kita
bertiga. Setelah lulus SMP Aditya pun akan melanjutkan SMA di Tasikmalaya. Itu
yang membuat kami lebih merasa menyesal. Waktu untuk kumpul bertiga akan jarang
ditemukan.
Lagi-lagi harus merasakan
LDR. Tepat tanggal 14 Juni saat pengumuman kelulusan, Aditya berangkat ke
Tasikmalaya. Semenjak kepergiannya ke Tasik, Syalsa dan aku mencoba meruntuhkan
tembok yang tak sengaja telah terbangun antara kami. Syalsa selalu ada saat aku
membutuhkan seseorang untuk berbagi kisah. Dia tak pernah bosan mendengar
curahanku, keluhanku, maupun ocehanku. Aku pun sudah menemukan tawaku kembali.
Syalsa dan Aditya, dua orang yang sangat berpengaruh dalam proses hatiku
menerima lingkungan.